Perbedaan Fintech Lending Legal dan Ilegal, Jangan Sampai Terjebak!


Foto: Koinworks.com

Dalam era modern yang serba canggih ini, makin banyak teknologi dan aplikasi yang terus bermunculan di tengah masyarakat. Salah satu teknologi yang muncul adalah layanan financial technology (fintech) lending atau pinjaman online kini sudah ramai di Indonesia. Layanan fintech ini membidik masyarakat yang tak terlayani oleh bank namun tetap ingin mendapatkan pendanaan.

Ada fintech pinjaman online yang sudah terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Fintech ini bisa disebut legal dan aman, karena patuh pada aturan yang ditetapkan oleh regulator, misalnya mulai dari aturan tak membaca kontak peminjam, batasan denda hingga batasan bunga. Namun, dibalik kemudahan pinjaman online tersebut, masyarakat diharuskan untuk tetap waspada.

Hal ini dikarenakan masyarakat yang ingin melakukan pinjaman secara online harus mengerti perbedaan fintech ilegal dan legal yang banyak beredar saat ini. Dengan mengerti perbedaannya, setidaknya Anda tidak terjerat dengan bunga yang tinggi serta tidak dikejar-kejar oleh rentenir online. Berikut perbedaan fintech lending legal dan ilegal.

Fintech Legal

Kenali ciri-ciri fintech legal. Foto: Akseleran.co.id

1. Identitas jelas dan terdaftar di OJK

Pinjaman online legal (resmi) pasti selalu mencantumkan alamat perusahaan beserta kontak customer service atau layanan pengaduan yang bisa dihubungi konsumen kapan saja. Hal lain yang menjadi syarat utama fintech dapat menjadi legal adalah fintech harus sudah terdaftar di OJK.

Bila sudah terdaftar secara resmi, berarti perusahaan tersebut memiliki kejelasan dalam menjalankan bisnisnya, karena OJK memberi ketetapan pada semua fintech yang terdaftar untuk secara rutin melaporkan aktivitas perusahaan mereka setiap 3 bulan sekali. Perusahaan juga harus memiliki modal awal usaha sebesar Rp 1 miliar.

2. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi

Jika Anda melakukan pinjaman secara online namun dalam hitungan menit dana yang Anda butuhkan sudah cair, sebaiknya Anda memeriksa kembali apakah fintech tersebut legal atau illegal. Fintech legal membutuhkan proses yang lumayan lama bahkan dalam beberapa hari dana yang Anda perlukan baru bisa cair.

Jika Anda meminjam pada pinjaman online legal, Anda  akan diminta melampirkan surat keterangan kerja, slip gaji atau rekening koran, dan NPWP. Pinjaman online legal juga membutuhkan waktu untuk memverifikasi tempat kerja Anda secara resmi. Sebelum pinjaman Anda disetujui. Paling tidak proses persetujuan hingga pencairan pinjaman Anda akan membutuhkan waktu 3 sampai 5 hari kerja.

3. Dilarang keras mengakses kontak dan data pribadi konsumen

OJK membuat peraturan jelas yang mengatakan bahwa perusahaan fintech wajib menjaga kerahasiaan, keutuhan dan ketersediaan data pribadi, data transaksi, serta data keuangan sejak data diperoleh hingga data tersebut dimusnahkan.

Perusahaan juga harus menyediakan sistem pengamanan yang mencakup prosedur, sistem pencegahan, serta penanggulangan terhadap ancaman yang dapat merugikan konsumen. OJK juga telah menetapkan sanksi jika terjadi pelanggaran atas peraturan tersebut.

Oleh karena itu, fintech legal dilarang keras melakukan pelanggaran terhadap hak privasi konsumennya. Termasuk mengakses serta memanfaatkan kontak pribadi milik konsumen. Fintech hanya diperbolehkan mengakses kamera, mikrofon dan lokasi.

4. Penagihan maksimum 90 hari.

Fintech lending legal diwajibkan untuk membuat kontrak perjanjian yang paling mencantumkan nomor kontrak, tanggal perjanjian, identitas serta ketentuan mengenai hak dan kewajiban kedua belah pihak, jumlah pinjaman, suku bunga yang berlaku, jangka waktu, ketentuan mengenai denda, hingga mekanisme penyelamatan sengketa.

Jika Anda tidak mendapat kontrak perjanjian yang jelas seperti ini, sebagai konsumen Anda berhak memintanya. OJK menetapkan total biaya pinjaman atau bunga 0,05% hingga 0,8% per hari dan maksimum penagihan selama 90 hari selama hari kerja.

Risiko konsumen apabila tidak dapat melunasi pinjamannya setelah batas waktu selama 90 hari adalah masuk ke dalam daftar hitam pada Pusat Data Fintech Lending (Pusdafil). Lalu, Pusdafil akan memuat informasi terkait pinjaman yang bermasalah dari konsumen tersebut dengan pinjaman yang bermasalah pada penyelenggara fintech legal OJK yang telah terdaftar atau berizin di Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Fintech Illegal

Hati-hati terjebak Fintech ilegal. Foto: InternationalInvestorClub.Com

1. Identitas perusahaan tidak jelas

Ciri khas dari pinjaman online ilegal adalah tidak mencantumkan alamat perusahaan maupun kontak yang jelas di laman website dan aplikasinya. Hal ini bertujuan agar perusahaan tersebut tidak bisa dilacak sehingga mereka lebih bebas melakukan tindakan yang dapat merugikan konsumen.

Jika kemudian terjadi hal yang merugikan konsumen lalu konsumen tersebut melaporkan kepada pihak berwajib maka akan sulit untuk melacak dan menemukan keberadaan perusahaan tersebut. Jika perusahaan tersebut belum terdaftar di OJK sudah pasti tidak ada yang mengawasi jalannya perusahaan dan tidak ada pihak yang bisa menjamin keamanannya.

2. Memberikan pinjaman dengan sangat mudah

Ada keadaan dimana seseorang sedang dalam keadaan terdesak dan benar-benar membutuhkan dana tunai secepatnya. Keadaan inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh fintech ilegal untuk melancarkan aksinya dan meraup keuntungan.

Proses pendataan biodata konsumen hingga pencairan dana hanya dalam hitungan jam dan sangat mudah. Biasanya fintech illegal ini memberi persyaratan yang mudah, bahkan hanya bermodalkan biodata diri dan KTP. Sekejap dana yang Anda butuhkan cair.

Oleh karena itu, Anda harus lebih teliti lagi bila menemukan hal yang mencurigakan seperti ini dalam proses peminjaman secara online. Jika ragu Anda bisa kok membatalkannya.

3. Mampu mengakses data kontak pribadi

Fintech lending ilegal sejak awal awal Anda instal akan meminta izin untuk bisa mengakses hingga ke data kontak dan data pribadi lainnya. Oleh karenanya Anda harus lebih hati-hati memperhatikan apa saja izin akses yang diminta dari aplikasi fintech yang Anda install.

Jangan asal menekan ‘yes’ tanpa Anda tahu apa yang tertulis. Nantinya, data-data yang telah berhasil diakses akan dipergunakan untuk menagih konsumen yang menunggak pembayaran. Apabila terjadi gagal bayar, data-data pribadi tersebut juga akan digunakan untuk meneror konsumen.  Bahkan dalam banyak kasus, fitnah tentang Anda akan disebar ke semua kontak yang ada di ponsel Anda.

Ancaman teror kekerasan, penghinaan, pencemaran nama baik, menyebarkan foto atau video pribadi juga mungkin saja Anda dapatkan jika Anda terlambat dalam melakukan pembayaran.

4. Memberi bunga per hari tanpa batas

Bila Anda terlambat melakukan pembayaran, Fintech lending ilegal akan terus mengakumulasi denda per hari sampai peminjam mampu membayar pinjamannya dengan batas pembayaran yang tidak terbatas. Belum lagi bunga pinjaman individu yang berlaku pada fintech ilegal jauh lebih besar, yaitu bisa mencapai 2% – 3% per harinya.

Meski berada dalam situasi dan keadaan yang sangat terdesak, tidak memiliki uang dan membutuhkan pinjaman dengan segera, lebih baik Anda cari aman dengan tidak mengajukan utang ke fintech lending ilegal. Jangan sampai data pribadi Anda disebar ke semua kontak yang ada di ponsel Anda karena tidak mampu membayar pinjaman. Karena kemudahan yang didapat dari fintech lending ilegal ini hanya diawal saja karena bisa meraih pinjaman kilat, tetapi risiko besar mengintai di belakangnya. Itulah perbedaan antara fintech ilegal dan legal yang perlu Anda ketahui. Dengan mengetahui hal tersebut, diharapkan Anda bisa terhindar dari rentenir online dan pinjaman yang memberikan bunga yang tinggi.


Like it? Share with your friends!

Bamz

Founder & CEO PT. Inspira Kreasi Nusantara, perusahaan yang bergerak di bidang kreatif dan teknologi. Seorang praktisi dan konsultan Internet Marketing.

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *